Menikmati Braga Culinary Night di Bandung

Sore hari saat para pedagang mulai menggelar dagangannya


Setelah memutar otak di acara Kopdar Diskusi dan Workshop SEO Masterpiece untuk UKM dan Bisnis Lokal di kantornya Dewa SEO, ITC Kebon Kelapa, Bandung. Saya bersama rekan Fahmi Rizwansyah dan Arif Setiawan, meninggalkan ITC Kebon Kelapa. 

Karena bukan orang Bandung Walau bung Arif sendiri saat ini sudah bekerja di Bandung, kami agak kesulitan juga untuk masuk ke kawasan jalan Braga ini. Mobil yang di kendarai Arif, walau sudah di pandu dengan GPS, masih belum bisa dengan cepat menuju lokasi, karena ada beberapa jalan yang kami lewati menerapkan arus satu jalur. Namun berkat kesabaran Arif yang di pandu oleh bung Fahmi dengan GPS yang ada di ponsel Androidnya, kami behasil juga sampai di jalan Braga. Tapi karena kami sudah terlambat dan jalan Braga sudah ditutup untuk di pakai sebagai ajang BCN, kami tidak bisa memarkir kendaraan di lapangan parkir Aston Braga Apartement, tempat kami menginap malamnya.


Bersama Fahmi Aston Braga

Setelah sampai di jalan Braga, kami langsung menuju Aston Braga Apartemen, di mana kami nanti berkumpul bersama teman-teman yang datang naik motor dari ITC Kebon Kelapa. Benar saja, baru saja kami tiba, bung Argun Owner Dewa SEO bersama rekan Ade Truna juga sudah sampai di sana. Kami langsung menuju kamar 11 I Aston Braga Apartemen. Sampai di lantai 11 kami langsung menuju kamar 11 I yang letaknya hanya beberapa langkah dari lift.

Sementara teman-teman langsung menuju kamar, saya memanfaatkan kesempatan melakukan pemotretan kota Bandung dari balik jendela ruang lift. Saat melakukan pemotretan saya mendengar sedikit suara ramai teman-teman yang tengah berdiri di depan kamar. Saya lalu mendekat. Rupanya ada masalah dengan kunci kamar, walaupun anak kuncinya masuk tapi tidak bisa di putar. Setelah di coba beberapa kali bergantian namun tetap gagal. Setelah saling bertanya-tanya kenapa pintunya tidak bisa dibuka. Salah seorang lalu melihat label yang ada di kunci, barulah kami semua tertawa. Rupanya kami salah kamar, karena di label yang terbuat dari plastik tebal berwarna merah itu tertera angka 12 I. Busyet dah...


Narsis sebelum  turun kejalan

Kamipun lalu kembali masuk lift dan naik satu lantai. Benar saja, begitu kunci dimasukkan dan di putar di kamar 12 I, pintupun  terbuka lebar. Kamipun melepaskan tawa yang tertahan mengingat kelucuan yang baru saja tercadi. Padahal Argun tadinya sudah yakin sekali kalau kamar yang dipesan adalah kamar 11 I.

Selesai shalat magrib, anggota rombongan terakhir datang, yaitu Nchie Hanie dan Myrael Anatsya. Setelah semua lengkap, kamipun keluar kamar hotel, turun ke basemen lalu berjalan melalui koridor Braga City Walk dan muncul di kawasan Braga Culinary Night!


Braga, kami datang...!

Jalan Braga penuh sesak saat kami mulai menyusurinya, sambil melihat-lihat kuliner apa yang akan kami nikmati malam itu. Di jalan yang sempit dan sesak itu, sifat narsis kami tetap saja tidak bisa di tahan. Jepret sana jepret sini, mejeng sana mejeng sini, bersaing dengan pengunjung lainnya yang juga melakukan hal serupa. Narsis habisssss.....

Bingung juga memilih apa yang akan kami nkmati saat itu. Masalahnya kami berombongan, dengan cita rasa kesukaan yang mungkin tidak sama. Tapi yang lebih mendominasi saat itu adalah tidak adanya tempat duduk bila ingin makan. Jalan Braga benar-benar tak lagi punya ruang untuk sekadar duduk menikmati hidangan yang begitu melimpah aneka bentuk dan rasanya, tapi tak punya tempat untuk menikmatinya! Bagi mereka yang cuek, biasa saja makan sambil jalan dengan mulut komat-kamit seperti bocah berumur satu digit!!! Nggak nyaman lah yauuu
Panggung jalanan


Walaupun sedang lapar, tapi saya sudah kehilangan selera saat itu. Tapi demi menghormati tuan rumah, saya tetap menerima sodoran batagor hangat yang telah dipesan. Untuk menikmatinya saya menyusur mengikuti teman-teman, lesehan di teras toko yang sudah tutup.Setelah menghabiskan jatah makanan masing-masing, kami kembali menyusuri jalan Barga. Sampah mulai terlihat berserakan di sana-sini. 

Walaupun tema pesta rakyat ini adalah kuliner, tapi tidak semua yang tampil di sana adalah pedagang makanan. Beberapa group musik ikut menyemarakkan acara, bahkan diantaranya ada yang memanfaatkan kesempatan untuk ngamen kepada pengunjung. Sebuah perusahaan operator seluller ikut meramaikan dengan menjual produk mereka beserta paket ikutannya. Sebuah stasiun radio komersial, juga ikut melakukan siaran live streaming.


Embat aja, cuek aja lagi, ...

Setelah menelusuri sepanjang jalan Braga, kami istirahat sejenak di ujung jalan yang tidak begitu ramai. Tapi istirahat kami bukannya duduk santai sambil ngobrol, melainkan dengan melakukan ritual wajib para Blogger, bernarsis ria, jeprat-jepret, hehehe....


Yang penting bisa makan, dimanapun jadi...

Capek narsisan, bos Argun ngajak ke Karaoke. Maka kami bergerak lagi melawan arah, kembali ke hotel. Ada ruang karaoke keluarga di sana. Setelah registrasi pesan tempat, kamipun diantar ke ruangan berukuran 3 X 5 meter. Selesai mengikuti tiga lagu, mata saya sudah nggak kuat. Saya lalu minta kunci kamar ke Myrael, lalu sendirian berjalan ke kamar. Sampai di kamar saya shalat Isya, setelah itu langsung berlayar ke pulau kapuk... zzzzzzzzz


Yang tua sama yang bening seleranya sama, ada yang mau ikut makan?

Saya tidak begitu tahu berapa lama teman-teman mengetok pintu, saat terbangun dan membuka kunci, semuanya sudah antri di balik pintu, begitu pintu terbuka semuanya masuk dengan wajah menyembulkan kegembiraan, kecuali saya yang masih ngantuk...  

Nggak kuat lama-lama menemani mereka ngobrol saya nyambung tidur lagi. Untung saja apartemennya ada dua kamar, saya langsung masuk kamar dan tidur lagi, karena kursi tempat saya tidur tadi sudah di tongkrongi teman-teman buat ngobrol.


Hahaha.... Ada jagoan Dragon Ball
Live Streaming sebuah Radio Swasta






Alun-alun Bandung yang Kotor dan Tak Nyaman

Alun-alun Bandung, dengan latar belakang Masjid Agung Bandung
Alun-alun Bandung, dengan latar belakang Masjid Raya Bandung
Dinginnya Bandung di subuh hari, tak menghalangi saya untuk terjaga dan bangkit dari pembaringan kamar hotel Dewi Sartika, tempat saya menginap. Saya lalu menunaikan kewajiban saya untuk shalat subuh. Beberapa saat selesai shalat, sebuah tawaran pemakaian charger melalui sms dari sahabat Dudi Jaya, saya sambut dengan sukacita. Saya lalu berjalan kekamarnya, sampai di sana Dudi telah menunggu di depan kamarnya. Saat bertemu itu saya lalu mengajaknya ke Alun-alun Bandung bersama sang istri. Ajakan yang segera disetujui.

Salah satu sudut di Alun-alun Bandung
Salah satu sudut di Alun-alun Bandung
Setelah berkumpul di lobby hotel, bertiga kami berjalan menyusuri jalan Dewi Sartika yang masih lengang. Sebuah becak dengan pengemudi yang masih bergelung nyenyak di atasnya, parkir dipinggir jalan dekat hotel. Lampu jalan berwarna kuning masih menyala menerangi jalanan yang sepi itu. Sesekali mobil ataupun motor melintas melewati kami.
Sambil menikmati segarnya udara Bandung di pagi hari, kami mengobrol sepanjang jalan. Jarak dari hotel ke Alun-alun yang hanya sekitar duaratus  meter, kami tempuh dengan berjalan santai dalam waktu sekitar 10 menit.

Jala Asia Afrika ke arah Timur
Jalan Asia Afrika ke arah Timur

Sampai di alun-alun, kami tak langsung masuk ke lapangan yang juga merupakan bagian dari halaman Masjid Raya Bandung itu. Kami memutari bagian luar lapangan, dari jalan Dewi Sartika, kami belok kanan masuk jalan Dalem Kaum. Sampai di ujung alun-alun, kami belok kiri. Melewati jalan Alun-alun Timur, sambil melihat-lihat dan menikmati suasana pagi. Dengan kamera di tangan, saya mengabadikan suasana pagi itu. Mentok di jalan Asia-Afrika, kami belok kiri, saya lalu mengabadikan beberapa tempat yang bersejarah di Bandung itu. Sesekali saya juga mengabadikan pasangan suami-istri Dudi dan Karmila, berdua maupun sendiri-sendiri.

Jalan Asia Afrika ke arah Barat
Jalan Asia Afrika ke arah Barat
Setelah memutari bagian luar alun-alun, kami lalu masuk ke pekarangan masjid. Baru saja saya menjejaki pekarangan masjid yang di salah satu sisinya juga terdapat kantor polisi itu, pandangan saya langsung terarah pada pekarangan yang kotor. Sampah berserakan di mana-mana. Kami terus menuju lapangan rumput alun-alun. Situasinya tak berubah, sampah berserakan, rumput yang tumbuh tidak rata.
Yang lebih memprihatinkan, banyak tuna wisma yang tidur di bangku-bangku taman. Melihat kami datang dan melihat beberapa kilatan lampu kilat kamera saya, beberapa diantaranya langsung bangun dan menghindar. Mungkin mereka merasa takut atau tak nyaman dengan kehadiran kami. Mungkin juga ada yang mengira kami adalah petugas yang tengah mencari mereka. Untuk memperlihatkan bahwa kami tak bermaksud mengganggu mereka, saya sengaja sering-sering memotret Dudi Jaya maupun istrinya. Walau sebenarnya hasilnya tak memuaskan, karena pencahayaan di taman alun-alun itu yang tak mendukung. Setelah mereka saya lihat mulai cuek dengan kehadiran kami, baru saya mencoba mengabadikan suasana alun-alun di pagi itu dengan lebih serius dengan menjadikan Masjid Agung dengan menaranya yang tinggi sebagai latar belakang.

Koridor Masjid Raya Bandung. Seorang petugas terlihat tengah membersihkan dinding masjid
Koridor Masjid Raya Bandung. Seorang petugas terlihat tengah membersihkan dinding masjid
Sebenarnya banyak foto human interest yang bisa diabadikan di sana, sayang saya tidak membawa lensa yang memadai. Kalaupun saya ambil dengan peralatan yang ada, hasilnya tidak akan memuaskan dan tidak alami. Tapi yang pasti mengganggu penglihatan saya, tetaplah sampah yang berserakan di mana-mana itu. Saya teringat dengan lapangan Simpang Lima Semarang yang sempat saya kunjungi tahun lalu. Lapangan yang begitu hijau dan terawat rapi, serta yang paling mengesankan tidak ada sampah yang berserakan di sana, kecuali beberapa daun kering yang gugur dan diterbangkan angin ke tengah lapangan. Seandainya pemda Bandung bisa menjadikan Lapangan Simpang Lima itu sebagai contoh, begitu juga pengelolaan pedagang kakilimanya yang teratur rapi. Saya yakin Alun-alun Bandung akan lebih menawan lagi, dan akan menjadi tujuan wisata keluarga dan pusat kuliner yang pasti akan lebih menyemarakkan suasana di alun-alun itu.



Suami istri Dudi Jaya dan Karmila Dwie di depan Masjid Raya Bandung
Suami istri Dudi Jaya dan Karmila Dwie di depan Masjid Raya Bandung

Saat ini, kita melihat betapa banyaknya pedagang asongan yang bergerilya di alun-alun itu, juga pedagang kopi yang menjinjing termos, maupun yang mangkal di taman alun-alun itu. Kalau keberadaan mereka di tata sedemikian rupa, tentu akan lebih baik buat mereka, juga lebih baik untuk penataan dan pemeliharaan taman di alun-alun itu. Sementara untuk para tuna wisma yang banyak tidur di sana, tentu ini bagian dari tugas dinas sosial pemda Bandung untuk menertibkannya.
Setelah capek berkeliling dan mengabadikan beberapa momen di sekitar alun-alun, serta sempat juga minum kopi di sana. Akhirnya kami kembali ke hotel. Karena sekitar jam tujuh, kami harus berkumpul di ITC Kebon Kelapa, lalu melanjutkan perjalanan menuju Pangalengan, sekitar 45 kilometer di Bandung, untuk suatu acara yang telah di rancang oleh Dewaseo dan airrisadventure.

Melawan dinginnya pagi dengan api unggun
Melawan dinginnya pagi dengan api unggun

Pijat refleksi, dengan berjalan diatas batuan yang di buatkan khusus di Alun-alun.
Pijat refleksi, dengan berjalan diatas batuan yang di buatkan khusus di Alun-alun.

Lagi ngintip siapa Mila?
Lagi ngintip siapa Mila?

Rehat sejenak bersama Dudi Jaya
Rehat sejenak bersama Dudi Jaya

Korupsi Ala Awak Kopaja AC


13228678521632934935
Bus Kopaja AC 013 jurusan Grogol - Ragunan, terlihat kondektur bersandar pada counter gate yang berfungsi sebagai penghitung jumlah penumpang yang naik.

Untuk mengikuti acara makan malam bersama para blogger dari 9 negara Asean, kemarin saya berangkat dari rumah jam 17.30. Jalan kaki dari rumah, saya sampai di halte Telkom Tomang sekitar sepuluh menit kemudian. Dalam keraguan saya mau naik bus apa menuju FX Plaza Senayan, ditengah kemacetan jalan S. Parman menjelang magrib itu saya melihat sebuah bus Kopaja AC 013 jurusan Grogol - Ragunan berjalan pelan mendekati halte.

Sampai bus tersebut di halte saya segera mendekat untuk naik dari pintu depan, sebagaimana peraturan yang di tetapkan oleh pengelola bus Kopaja AC tersebut. Begitu saya mendekati pintu, sang kondektur menyuruh saya untuk naik lewat pintu belakang. Dengan sengaja di berdiri di pintu, seakan untuk menghalangi saya serta penumpang lainnya yang akan naik dari pintu depan, dan menyuruh kami untuk melanggar aturan dengan naik dari pintu belakang.

Setelah saya duduk, begitu juga tiga penumpang lain yang juga baru naik bersama saya yang memang mendapati bus dalam keadaan kosong, saya menduga bahwa counter gate yang berupa palang besi bercabang tiga yang akan berputar ketika dilewati penumpang, yang  berada dekat pintu depan dan berfungsi untuk menghitung jumlah penumpang yang naik mungkin rusak, sehingga penumpang terpaksa di naikkan lewat pintu belakang. Padahal seharusnya pintu belakang ini tidak boleh terbuka, kecuali bila ada penumpang yang turun. Tapi di bus yang saya tumpangi ini, ada atau tidak ada penumpang yang turun, begitu mendekati halte, kedua pintunya, depan dan belakang terbuka. Sehingga memberi kesempatan untuk calon penumpang naik dari belakang, malah disuruh oleh sang kondektur atas arahan sopir.

Sampai di halte RS Harapan Kita, dua orang calon penumpang bersiap untuk naik. Kembali sang kondektur yang saat itu perempuan, berdiri di pintu depan sambil menyuruh calon penumpang yang mau naik untuk lewat pintu belakang. Setelah kedua penumpang itu naik dari pintu belakang, bus Kopaja AC itu pun  meneruskan perjalanan.

Sampai di halte Slipi Jaya beberapa calon penumpang nampaknya juga sudah bersiap hendak menaiki bus yang saya tumpangi ini. Kembali sang kondektur berdiri di pintu dan setelah bus berhenti, kembali dia menyuruh penumpang untuk naik dari pintu belakang. Tapi nampaknya sang kondektur menyadari bahwa disitu tengah berdinas seorang polantas, dia lalu turun dari bus dan menyuruh penumpang naik dari pintu depan. Tapi hanya satu orang yang naik dari pintu depan, sementara 3 orang lainnya sudah keburu naik dari pintu belakang.

Dari kejadian adanya penumpang yang disuruh naik dari pintu depan dan saya melihat sendiri bahwa counter gate itu tidak rusak, baru saya menyadari bahwa telah terjadi penghilangan data penumpang oleh awak bus Kopaja AC itu. Dengan menyuruh penumpang naik melewati pintu belakang, maka penumpang tersebut tidak akan terhitung oleh counter gate. Dengan tidak masuknya data karena tidak terhitungnya sang penumpang oleh counter gate, maka ongkos yang dibayarkan penumpang Rp. 5000 dengan sendirinya juga tidak akan masuk ke kas pengelola bus Kopaja AC ini, melainkan masuk kantong sang awak  bus. Sebuah praktek korupsi yang dengan lihai di lakukan oleh awak bus Kopaja AC ini.

Sementara data di counter gate tetap sedikit dari seharusnya yang ada, misalnya penumpang yang mereka angkut ada 100 orang, maka yang tercatat di Counter gate ini pasti dibawah itu. Bila ditanyakan kenapa hanya sedikit penumpang yang tercatat di Counter gate ini, maka dengan enteng kedua awak bus ini akan berkata "penumpang sepi...!"

Besarnya gaji pengemudi bus Kopaja AC yang Rp. 2,6 juta untuk pengemudi dan Rp. 2,1 juta untuk kondektur perbulannya, mungkin dirasa belum cukup oleh kedua awak bus ini. Sehingga mereka melakukan tindakan tidak terpuji itu, menggerogoti dari dalam apa yang sebenarnya bukan hak mereka dan melanggar aturan perusahaan yang telah mereka tanda tangani sewaktu diterima di perusahaan ini.

Mungkin kita bisa menghitung berapa ongkos yang dibayarkan penumpang yang ditilep awak bus ini, bila dalam satu trip perjalanan saja mereka bisa menghilangkan data lebih dari sepuluh penumpang?

Obor SEA Games Singgah di Indosat

Obor SEA GAMES ke 26 yang di ambil dari api abadi Mrapen, kemarin mulai memasuki Jakarta. Setelah di inapkan semalam, hari ini obor tersebut kembali di arak keliling Jakarta. Arakan obor tersebut tadi pagi secara resmi di lepas oleh Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo, dihalaman balaikota Jakarta, jalan Merdeka Selatan.
Sebagai Official Telekomunication Partner, Indosat yang berkantor pusat di sudut jalan Merdeka Barat, mendapat kehormatan menjadi persinggahan pertama Obor SEA Games ini. Obor yang dilepas jam 9.00 dan di bawa oleh mantan atlet Bina Raga Ade Rai sebagai pelari pertama, bergerak menyusuri jalan Merdeka Selatan, kemudian memutar kekanan melewati air mancur Bank Indonesia dan masuk ke Jalan  Merdeka Barat.
Rombongan Obor SEA Games ini kemudian belok kekiri memasuki gerbang kantor pusat Indosat. Dihalaman kantor Indosat Obor SEA Games ini diserah terimakan dari tangan Ade Rai kepada  Fadzri Santosa, direktur PT Indosat yang kemudian membawa obor ini ke panggung upacara.
Upacara penyambutan di Indosat ini berlangsung singkat, dengan hanya satu kata sambutan dari Fadzri Santosa yang menguraikan keterlibatan secara total Indosat dalam SEA Games ini, serta berbagai produk khusus Indosat yang berkaitan dengan SEA Games.  Selesai dengan pidato sambutannya Fadzri kembali menyerahkan Obor SEA Games kepada Ade Rai untuk melanjutkan perjalanan menuruti rute-rute yang telah di tentukan sebalumnya.
Sebelum berjalanan meninggalkan kantor pusat Indosat, di halaman depan Indosat, rombongan Obor SEA Games ini sejenak di abadikan bersama Direktur Indosat Fadzri Santosa.
Dengan kembali Ade Rai sebagai pemegang obor, rombongan Obor SEA Games ini meninggalkan kantor Pusat Indosat, memasuki jalan Merdeka Barat terus ke jalan Thamrin mengikuti rute-rute yang telah di tentukan, dengan diselingi singgah kebeberapa tempat dimana terdapat kantor Official Partner SEA Games 2011 ini.


13204749922006230023
Rombongan obor SEA Games melewati jalan Merdeka Selatan



1320475236815859231
Ade Rai sambil memegang obor, bersama rombongan memasuki jalan Merdeka Barat



1320475706754651896
Obor SEA Games memasuki pekarangan Indosat



13204758231899031350
Obor SEA Games disambut meriah oleh musik tradisional Tanjidor serta liputan media



13204763991289253981
Obor diserah terimakan kepada direktur Indosat Fadzri Santosa



1320476661940328817
Dorektur Indosat Fadzri Santosa membawa obor menuju tempat upacara penyambutan



132047695794308873
Fadzri Santosa memberikan sambutan atas kedatangan obor SEA Games



13204771581737651551
Direktur Indosat Fadzri Santosa menyerahkan kembali Obos SEA Games kepada Ade Rai untuk melanjutkan perjalanannya mengelilingi Jakarta.



1320478683958908660
Berfoto bersama sebelum meninggalkan Indosat



132047879916793677
Barisan pengiring Obor SEA Games, memanjang di jalan Merdeka Barat


Powered  by Indosat
Official Telecomunication  Partner - SEA Games 2011
Jakarta - Palembang

Merubah Hidup Dengan Wonderful Life

131383540871143545 
.
Beberapa hari yang lalu sekitar jam 11 malam, seorang pemuda bernama Siswanto mendatangi counter voucher saya. Setelah memperkenalkan diri dia menyerahkan sebuah amplop putih. Katanya dia dari distributor voucher telepon selluler, mengundang saya ikut berbuka bersama di sebuah restoran di jalan Tanah Abang Dua. Siswanto juga mengatakannya perusahaannya akan mengadakan launching produk baru mereka. Saya sudah menduga ini adalah undangan promosi dagang, tapi nampaknya dia sudah membaca pikiran saya dan mengatakan tidak bergabung juga tidak apa, datang saja dulu.

Sore kemarin habis shalat asyar saya berjalan memenuhi undangan itu, dari rumah saya naik angkot menuju kolong jembatan Tomang Raya yang melintasi Kali Banjir Kanal. Turun dari angkot saya berjalan menyusuri Tanggul Banjir Kanal menuju jembatan gantung. Setelah melintasi kali Banjir Kanal lewat jembatan gantung saya sampai di Jalan Bakti. Lewat sebuah gang kecil saya tembus di jalan Citarum lalu berjalan lurus mengikuti jalan Tulang Bawang.

Di pertigaan jalan Tulang Bawang, Jalan Musi dan jalan Tanah Abang Dua, saya berjalan lurus memasuki jalan Tanah Abang Dua. Hanya beberapa meter dari pertigaan saya belok ke kanan, memasuki pekarangan Restoran Bumbu Desa.

Sampai di pintu utama restoran, beberapa orang sudah terlihat antri sayapun menyambung di belakang barisan. Setelah tamu yang berada di depan saya selesai mengisi buku tamu, saya pun menyusul. Sebuah goody bag berwarna biru bertuliskan Woonderful life saya dapatkan sambil menyerahkan undangan yang saya bawa.

Setelah bersalaman dengan beberapa orang penerima tamu, saya mulai mencari tempat duduk. Ruangan restoran yang cukup luas itu masih sepi, kecuali dari pihak tuan rumah. Saya belum melihat Siswanto, yang pagi sebelumnya telah menelpon saya untuk konfirmasi kehadiran di acara itu. Setelah mendapatkan tempat duduk yang cukup nyaman untuk melihat presentasi nantinya, saya pun memperhatikan sekitarnya. Spanduk Wonderful Life terpajang di beberapa tempat berikut X Banner yang didirikan di sudut panggung, disebelah layar presentasi.

Rupanya acara ini tidak berjalan tepat waktu seperti yang tertulis di undangan jam 16.00. Lewat pukul lima sore baru terlihat tanda-tanda akan dimulai, itu juga baru sekadar lagu-lagu pengantar waktu. Tepat jam 17.30 baru acara di buka oleh pembawa acara dengan memanggil Aswanto SI sebagai presiden direktur PT Great Life Indonesia. Aswanto nampaknya cukup memahami waktu yang ada, sehingga dia hanya memberikan sambutan singkat.

Acara selanjutnya adalah presentasi produk. Dalam presentasi disebutkan PT Great Life Indonesia sebagai distributor dari seluruh operator telepon selluler Indonesia. Namun dalam pemasarannya Great Life tidak menjadikan reseller hanya sebagai perpanjangan tangan penjualan produk voucher, tapi menggandeng para outlet untuk ikut sebagai partner dengan memberlakukan sistem manajemen berjenjang.

Tidak sebagaimana bisnis MLM pada umumnya yang hanya menjadikan para member menjadi bumper untuk memperkuat posisi uplinenya dan berpotensi sebagai konsumen mutlak. Karena produk yang dijual sangat mahal jauh berlipat dari harga rielnya. Maka dalam sistem jaringan GL ini member tak akan pernah mengalami kerugian, apalagi menjadi konsumen mutlak. Karena produk yang di jual adalah produk dengan tingkat kebutuhan tinggi masyarakat yang memakai telepon selluler. Jadi tanpa membuat satu jaringanpun, member tetap dapat berbisnis dengan menjual pulsa elektrik untuk telepon selluler di lingkungan tempat tinggalnya.

Member baru akan menikmati keuntungan plus bila dia berhasil membuat jaringan yang luas dan pro aktif mengembangkan jaringannya itu dengan sistem member get member. Karena bila jaringannya cukup luas sang member bisa menjadi distributor bagi membernya. Sambil tetap bisa menjual voucher dilingkungannya. Sistem yang dikembangkan PT GI ini di promosikan dengan slogan Wonderful Life, hidup menjadi lebih luar biasa!
Acara malam itu di selingi dengan permainan serta ditutup dengan memberikan door prize. Saya cukup beruntung mendapatkan sebuah jam dinding.

Anda berminat untuk bergabung?

Renungan Malam





Anakku…
Ketika malam bergulir menjelang dini
Kutatap wajahmu yang tidur dalam damai
Menyembunyikan sebuah salinan diriku
Betapa engkau sebuah ciptaan Sang Maha Sempurna
Yang hadir menggantikan kakak-kakakmu


Anakku…
Ku beri engkau julukan rizki yang maha agung
Karena kehadiranmu memang sebuah anugerah
Yang datang disaat usia senja mulai merayap menapaki diriku
Disaat kakak-kakakmu mulai berbenah mempersiapkan diri
Untuk pergi meninggalkan ayah dan bundamu
Berlayar mengharungi lautan kehidupan barunya
Bersama pendamping yang telah diberikan Tuhan untuknya

Anakku…
Betapa tawa dan tangismu telah meramaikan lagi
Rumah yang tadinya telah berangsur sunyi
Celoteh mulut kecilmu…
Kembali membangkitkan semangat dan gairah hidupku
Untuk hidup lebih lama lagi

Tuhan….
Berilah aku kesempatan
Mengemban amanat yang telah Engkau berikan padaku
Hingga dia bisa melangkah dengan kakinya sendiri
Mengarungi kehidupan yang telah Engkau tetapkan untuknya
Di jalan yang Engkau ridhai
Dengan tuntunan cahayaMu
Hingga Engkau memanggil aku keharibaanMu
Karena tugas dan kewajibanku telah selesai

Amiin

 14-6-2011
02:01

Saya telah mencoba aneka merek rokok, tapi saya tak mencandu

Waktu saya tinggal di Dumai, Riau, sekitar tahun 1973 bersama kakak. Saya diberi modal sebuah etalase terbuat dari kayu yang diberi roda, Kami waktu itu menyebutnya kios. Untuk mengisi kios ini saya juga dimodali dengan berbagai macam merek rokok untuk di jual eceran, baik rokok merek lokal pabrikan Jawa maupun produksi pabrik rokok Sumatera, khususnya dari tanah Deli. Tak ketinggalan juga rokok putih produksi luar negeri.

Setiap hari itulah dagangan saya, di pinggir jalan Sudirman, Dumai, yang waktu itu masih merupakan kota kecamatan, dengan kilang minyak Pertamina Putri 7 berdiri dengan megahnya.

Karena saya menjual rokok secara ketengan, saya bebas mencoba semua jenis rokok yang saya jual, bagaimana rasa rokoknya, dan apa yang saya dapatkan dengan merokok itu, serta seperti apa yang namanya candu rokok itu, menuruti rasa penasaran bagaimana orang bisa kecanduan rokok.

Setelah berjalan beberapa bulan, saya tidak mendapatkan apa itu nikmatnya merokok. Yang saya rasakan hanya rasa pahit tembakau rokok tanpa filter, rasa mint rokok menthol, rasa manis rokok kretek dan tawarnya rokok yang katanya rendah tar dan nikotin.


Karena tidak adanya rasa ketergantungan atau candu terhadap rokok yang manapun. Saya akhirnya tidak meneruskan "pelajaran" merokok saya. Walau merokokpun saya juga tidak merasakan gangguan pada diri saya saat itu.


Hingga kini sayapun bebas dari kecanduan rokok itu. Kalaupun kadang-kadang saya iseng untuk merokok, maka saya akan merokok begitu saja sebatang sebulan atau sekali enam bulan, itupun rokok kretek tanpa filter. Sekadar menikmati sensasi rasa cengkeh yang terbakar, maupun rasa manis di ujung lidah.

Serial Fotografi: Operasi Jerawat Tanpa Berdarah


Sebelum datangnya era fotografi digital, bila datang ke studio foto untuk pembuatan pasfoto, Anda akan terpaksa menerima saja apapun hasil foto Anda tersebut. Rambut kusut tak tersisir, muka jerawatan seperti permukaan bulan di injak Neil Amstrong. Anda tinggal menggerutu sambil menyesali nasib. “Ya ampuuuun..... mukaku kok begini amat?

Kini, keluhan seperti itu mungkin tak akan terdengar lagi. Semenjak maraknya serbuan kamera digital di pasaran, mulai dari kamera saku yang harganya murah meriah, hingga kamera DSLR kelas profesional berharga puluhan juta.

Kehadiran kamera digital ini juga beriringan dengan hadirnya program aplikasi pengolah gambar di komputer, seperti Photoshop, PhotoPaint dan lain-lainnya. Gabungan antara gadget dan aplikasi komputer ini mampu menghadirkan karya foto yang seolah tanpa cacat. Bahkan dengan segala kelebihannya, mampu mebuat sebuah hasil karya foto melebihi keindahan foto aslinya.

Diantara kehebatan program aplikasi pengolah gambar itu, dapat kita lihat pada foto pendamping tulisan ini.

Seorang pelanggan yang datang untuk membuat pasfoto, rupanya mempunyai problem pada wajahnya, apalagi kalau bukan masalah yang dibicarakan di awal tulisan tadi, jerawat!

Setelah di lakukan pemotretan dan fotonya di salin ke komputer, mulailah pekerjaan operasi jerawat ini di kerjakan.

Pekerjaan pertama setelah membuka foto tersebut di program pengolah gambar, adalah mengatur komposisi warna secara keseluruhan. Setelah merasa cukup, baru tampilan muka sang pelanggan di perbesar , sehingga detail wajahnya semakin jelas. Dengan piranti stamp muka sang pelanggan mulai di operasi . Piranti stamp ini sebenarnya bukan mengangkat sang jerawat sampai ke akar-akarnya. Melainkan menutup sang jerawat dengan kulit muka yang mulus di sekitar jerawat. Hal ini di lakukan agar warna kulit yang menutup jerawat persis sama dengan warna kulit di sekitarnya, sehingga muka sang pelanggan tidak kelihatan belang.

Dalam proses pekerjaannya piranti stamp kita pakai untuk menyalin permukaan wajah yang tidak berjerawat, lalu menempelkannya di atas permukaan wajah yang berjerawat. Makanya sewaktu menyalin permukaan yang akan di tempelkan di atas jerawat kita harus mengambilnya dari area terdekat yang terdekat dengan jerawat, agar nanti permukaan wajahnya seragam.

Setelah operasi selesai, pekerjaan terakhir adalah mengganti latar belakang yang tidak rata dengan warna yang sesuai. Akhirnya tuntas sudah operasi jerawat ini, tanpa ada setetes darahpun yang mengalir... hehehe.

Foto kiri, sebelum di lakukan operasi. Kanan setelah operasi, mulus tanpa jerawat.

Serial Fotografi: Anda Cukup Bawa Kepala

Hadirnya tehnologi fotografi digital, membuat lompatan yang jauh dalam penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kemudahan-kemudahan yang disajikan, membuat urusan potret memotret ini menjadi mudah dan cepat, dengan hasil tak perlu di sangsikan lagi. Asal kita memakai perlatannya dengan benar sesuai aturan pakainya.

Lompatan besar yang kita dapatkan itu disamping tehnologinya, juga semakin minimnya biaya yang di keluarkan untuk mendapatkan sebuah foto. Apakah itu untuk keperluan pribadi, keluarga maupun bisnis.

Dulu, untuk mendapatkan sebuah foto, kita harus membeli film negatif yang masih kosong. Setelah melakukan pemotretan, kita harus memproses film itu dulu di laboratorium. Setelah film selesai di proses, kita juga belum bisa menikmati hasil pemotretan itu. Karena film yang baru selesai di “cuci” itu belum sepenuhnya bisa dilihat. Masih terdapat satu proses lagi yang harus kita jalani, yaitu; mencetak film itu pada kertas foto, yang hanya juga bisa dilakukan di laboratorium cetak foto. Sudah berapa banyak biaya yang di keluarkan, untuk mendapatkan selembar foto?

Kini dengan tehnologi digital, minimal dua langkah pertama sudah dapat kita abaikan. Film dan biaya proses pencucian. Kita cukup membeli sebuah kartu memori, apakah itu berbentuk SD Card atau CF Card. Kartu memori ini dapat kita pakai berulang kali, dengan melalui proses format ulang atau menghapus data foto yang ada di dalamnya, bila isinya telah penuh. Tentu sebelumnya kita harus menyalin foto-foto itu dulu ke komputer atau ke media lain, seperti CD/DVD Room atau Flashdisk.

Keuntungan lain yang kita dapatkan dari fotografi digital ini adalah, kemudahan dalam hal montase atau editing. Bila kita masih memakai film seluloid, untuk melakukan editing foto, kita lebih dulu harus melakukan pemindaian (scanning) dengan alat pemindai (scanner), barulah foto kita dapat di olah atau di edit dengan komputer memakai program pengolah foto, seperti Photoshop. Namun satu hal yang harus disadari adalah, hasil pemindaian itu ada kemungkinan berbeda dengan foto aslinya, seperti tingkat kecerahan warna, kontras maupun ketajaman.

Sementara hasil pemotretan dengan kamera digital dapat langsung di olah di komputer, cukup dengan menyalin foto dari kamera ke komputer melalui kabel USB, atau dengan bantuan alat pembaca kartu memori (card reader). Hasil penyalinan dari kamera atau kartu memori ini tidak akan merubah hasil pemotretan kita, dari segi warna, kontras atau ketajaman.

Keuntungan lain fotgrafi digital adalah kecepatan proses pekerjaan. Karena semakin pendeknya alur pekerjaan yang harus dilalui, maka dengan sendirinya waktu kerjanyapun semakin singkat. Kalau selama ini untuk mendapatkan hasil pemotretan studio foto akan memakan waktu sekitar satu jam, maka sekarang waktu yang di butuhkan bisa hanya sekitar 15 menit atau paling lama setengah jam. Tergantung proses editing yang di lakukan, misalnya memperhalus wajah atau menghilangkan jerawat.

Bila terburu-buru sekalipun, sehingga tidak sempat mengganti pakaian. Misalnya mengganti kaos dengan kemeja, atau memakai jas lengkap untuk foto formal. Banyak studio foto yang sudah menyiapkan pakaian lengkap di komputer mereka, seperti foto pendukung tulisan ini. Jadi anda cukup hanya “membawa kepala” ke studio, selanjutnya, serahkan pada ahlinya.... kata sebuah iklan

Hasil editing sebuah pasfoto.
Anda cukup memotret bagian kepala, pakaiannya silahkan pilih sendiri


Handphone Berkamera, Pembunuh Studio Foto Kelas Menengah Kebawah


Sebelum datangnya era kamera digital, kita banyak menemukan studio foto. Apakah itu di kota-kota besar maupun di kota kecil, hingga ke kampung-kampung.

Studio foto itu, mulai yang mengambil tempat di ruko-ruko untuk yang berlevel kelas menengah atau atas. Hingga yang menjadikan teras rumah yang dibuat warung untuk di jadikan studio foto untuk kelas bawah. Maupun yang berada di pasar-pasar Inpres ataupun di pasar tradisional. Serta studio sederhana dengan perlengkapan seadanya di kaki lima atau yang mendirikan kios kecil dengan menempati jalur hijau.

Pada awal masuknya era kamera digital, studio foto kelas bawah ini belum begitu terganggu eksistensinya. Para pengusahanya masih bisa bertahan hidup dengan pendapatan yang cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. 

Hajat hidup studio foto kelas bawah ini baru terganggu setelah masuknya era handphone atau telepon genggam berkamera.

Kamera yang pada awalnya hanya ada pada telepon genggam kelas atas yang mahal, belakangan merebak ke telepon genggam kelas bawah. Apalagi setelah datangnya serbuan telepon genggam buatan Cina yang berharga murah meriah. Kini boleh dikatakan, tak satupun produk baru telepon genggam ini yang tidak di lengkapi dengan kamera.

Dengan datangnya serbuan telepon genggam berkamera ini, pelan-pelan studio foto kelas bawah ini keberadaannya mulai mendapat ancaman dan gangguan. Pangsa pasar yang tadinya masih cukup besar mulai menyusut. Setiap keluarga mulai mempunyai telepon genggam berkamera ini, dan memakainya untuk kebutuhan keluarga, untuk santai, ulang tahun malah yang ekstrim ada yang memakainya untuk acara pernikahan. Lahan yang selama ini di isi oleh studio foto kelas bawah ini.

Pelan-pelan, satu persatu, studio foto ini mulai gulung tikar karena kehilangan pangsa pasar, kalaupun mereka bertahan, pendapatan mereka tak mencukupi lagi untuk menutup biaya operasional. Bagi yang cukup modal dan melek teknologi, mereka segera mengikuti trend era digital ini. Menambah investasi untuk pembelian kamera digital, serta seperangkat komputer yang di lengkapi printer khusus untuk pencetak foto.

Sayangnya investasi yang di tanam ini, juga tak menjanjikan akan segera mencapai titik impas atau pulang modal. Karena pada umumnya mereka yang memakai telepon genggam berkamera ini juga tak selalu mencetak setiap foto yang di abadikan. Mereka hanya menyimpannya di memori kamera, lalu sewaktu-waktu melihatnya. Bila telah bosan lalu menghapusnya yang kemudian diisi lagi dengan foto-foto baru.
Beberapa teman seprofesi saya yang selama ini hidup dari studio fotonya, telah banting setir. Ada yang memugar studionya, lalu di jadikan warnet . Ada juga yang merubah studionya menjadi depo air minum isi ulang.

Serbuan tehnologi fotografi Digital ini tidak hanya melenyapkan studio-studio kecil kelas bawah. Tapi juga kelas menengah. Beberapa studio foto di kawasan Roxy, Jakarta Pusat, kini telah menutup pintu, menyerah. Beberapa studio yang tinggal, kini juga hidup dalam ambang ketidak pastian. Karena kekurangan order yang parah. Pengurangan tenaga, suatu hal yang makin sering terjadi.

Saya tidak begitu tahu bagaimana keadaanya dengan mereka yang berada di Jalan Sabang, dimana terdapat begitu banyak studio foto yang berderet di kiri kanan jalan.

Bagaimana situasinya di  kota-kota lain di Indonesia? saya kira tidak jauh berbeda.
Lalu bagaimana dengan studio-studio kelas atas? Walau badai era telepon genggam berkamera juga menerpa mereka, tapi mereka sudah punya pangsa pasar yang lebih terjaga dan spesifik, makanya mereka tetap bisa berkibar di tengah studio menengah maupun kecil mulai menghilang satu persatu.